Selasa, 27 Maret 2012

TEORI BELAJAR DAN MOTIVASI

PEMBAHASAN

A.   Teori – Teori Belajar Dan Motivasi
1.    Teori Belajar
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
Belajar menurut teori belajar behavioristik merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus danrespons. Adapun akibatnya adanya interaksi antara stimulus dan respons,siswa mempunyai pengalaman baru,yang menyebabkan mereka mengadakan tingkah laku dengan cara yang baru.

Teori belajar menurut aliran ini adalah:
ü  Hasil belajar tidak disebabkan oleh kemampuan internal manusia tetapi karena faktor stimulus yang menimbulkan respon.
ü  Agar hasil belajar optimal, maka stimulus harus dirancang sedemikian rupa sehinga mudah direspon siswa.
ü  Siswa akan memperoleh hasil belajar apabila dapat mencari hubungan antara stimulus dan respon tersebut.  
Macam-macam teori belajar menurut aliran ini adalah:
1.    Teori belajar Classical Conditionin Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan.
Pavlov menerapkan strategi ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya.
2.    Teori Operant Conditioning Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik.
Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
    1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
    2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
    3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
    4. Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
    5. dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
    6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
    7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

3.      Modelling dan Observational Learning (Albert Bandura )
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di Mondare  alberta berkebangsaan Kanada. Ia seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa disekitarnya.


Bandura mengembangkan 4 tahap melalui pengamatan atau modeling
a)        tahap perhatian          => Individu memperhatikan model yang menarik, berhasil, atraktif dan populer.
b)        tahap retensi  => Bila guru telah mendapat perhatian dari siswa, guru memodelkan perilaku yang akan ditiru oleh siswa dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mempraktekkannya atau mengulangi model yang telah ditampilkan.
c)        tahap reproduksi       => Siswa mencoba menyesuaikan diri dengan perilaku model.
d)       tahap motivasional    => Siswa akan menirukan model karena merasakan bhwa melakukan pekerjaan yang baik akan meningkatkan kesempatan untuk memperoleh penguatan.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
1.        Tingkat tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2.        Individu lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3.        Individu akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Konsep penting lainnya dari teori belajar ini adalah pengaturan diri (self-regulation). Dalam kegiatan belajar ini, individu mengamati perilakunya sendiri, menilai perilakunya sendiri dengan standar yang dibuat sendiri, dan memperkuat atau menghukum diri sendiri apabila berhasil ataupun gagal dalam berperilaku.
4.    Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Teori ini dikembangkan oleh Edward Thorndike. Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan
5.    Teori Modifikasi Perilaku Kognitif
Meichenbaum menyatakan bahwa individu dapat diajarkan untuk memantau dan mengatur perilakunya sendiri. Cara yang digunakan yaitu melatih individu yang terganggu emosionalnya untuk membuat dan menjawab pertanyaannya sendiri. Ada 5 tahap kegiatan belajar mandiri yang dikembangkan Meichenbaum, yaitu:
·         Model orang dewasa melakukan tugas tertentu sambil berbicara dengan keras (Modeling kognitif)
·         Anak melakukan tugas yang sama di bawah arahan pembelajaran dari model (Bimbingan eksternal)
·         Anak melakukan tugas sambil membelajarkan diri sendiri.
·         Anak membelajarkan dirinya sendiri dengan cara berbicara pelan pada saat melanjutkan tugas.
·         Anak melakukan tugas untuk mencari kinerja tertentu dengan melakukan percakapan diri sendiri
Teori belajar modifikasi perilaku koginitif ini menekankan pada modeling percakapan diri sendiri secara meningkat berpindah dari perilaku yang dikendalikan oleh orang lain kepada perilaku yang dikendalikan oleh diri sendiri, di mana individu menggunakan percakapan diri sendiri pada waktu melaksanakan tugas.

Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa

Aplikasi teori behavioristik terhadap pembelajaran siswa yaitu Guru menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap. Guru tidak banyak memberikan ceramah tetapi dengan instruksi singkat dan memberikan contoh-contoh yang di lakukan sendiri/simulasi. Bahan pelajaran disusun hirarki dari yang sederhana sampai yang komplek. Kesalahan kesalahan harus segera di perbaiki, pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang di inginkan dapat menjadi kebiasaan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu
a.       Mementingkan pengaruh lingkungan
b.      Mementingkan bagian-bagian
c.       Mementingkan peranan reaksi
d.      Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.       Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.       Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.      Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Kekurangan dan kelebihan
ü  Kelebihan teori behavioristik adalah sangat cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktik dan kebiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti kecepatan spontanitas, kelenturan, reflek daya, dsb.
ü  Kekurangan teori behavioristik adalah penerapan teori yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proases pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai center,otoriter komunikasi berlangsung satu arah,guru melatih dan menentukan apa yang harus di pelajari siswa.
b.      Teori Belajar Kognitif 
Belajar menurut teori belajar kognitif selalu didasarkan pada kognisi yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi. Psikologi gestalt berpendapat proses pemerolehan pengetahuan di dapat dengan memandang sensasi secara keseluruhan sebagai suatu objek yang memiliki struktur atau pola-pola tertentu, dengan demikian tingkah laku seseorang bergantung pada insight terhadap hubungan-hubungan yang abadi dalam suatu situasi.
Teori kognitif tertuju kepada hal-hal yang terjadi didalam kepala kita ketika kita belajar. Teori kognitif juga mengambil perspektif bahwa siswa secara aktif memproses informasi dan pembelajaran berlangsung melalui usaha-usaha siswa ketika siswa mengaturnya, menyimpanya dan kemudian menemukan hubungan-hubungan antara informasi, hubungan baru dengan pengetahuan lama, skema, dan teks, pendekatan kognitif menekankan bagaimana informasi di proses .
Ingatan / Memori
Terbagi menjadi ingatan jangka pendek (short term memory), ingatan jangka panjang (long term memory). Ingatan jangka pendek yaitu tempat menyimpan informasi yang baru saja kita pikirkan tergantung pada persepsi atau pengalaman meninggalkan jejak di dalam otak ,terdapat perbedaan memori pada individu atu dengna yang lain disamping ingat lupa juga akan muncul beberapa pengalaman yang tidak meninggalkan impresi tertentu umumnya tidak disimpan sehingga muncul kelupaan. Proses berpikir terjadi karena adanya interaksi antara memori jangka panjang dan jangka pendek.
Ada 2 bentuk pelancaran dalam membangkitkan ingatan, yaitu
1.    pelancaran proaktif          = Seseorang mengingat informasi sebelumnya apabila informasi yang baru dipelajari memiliki karakter yang sama.
2.    pelancaran retroaktif        = Seseorang mempelajari informasi baru akan memantapkan ingatan informasi yang telah dipelajari
Beberapa ahli yang menggunakan pendekatan teori ini adalah
1.    Menurut jean Piaget
 perkembangan kognitif mempunyai empat aspek, yaitu
a.       kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan syaraf;
b.      pengalaman, yaitu hubungan timbal balik antara orgnisme dengan dunianya
c.       interaksi social, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan social
d.      ekullibrasi, yaitu adanya kemampuan atau system mengatur dalam diri organisme agar dia selalu mempau mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkunganya.
Tujuan teori Piaget adalah untuk menjelaskan mekanisme dan proses perkembangan intelektual sejak masa bayi dan kemudian masa kanak-kanak yang berkembang menjadi seorang individu yang dapat bernalar dan berpikir menggunakan hipotesis-hipotesis.  Piaget mengemukakan bahwa ada 4 aspek yang besar yang ada hubungnnya dengan perkembangan kognitif :
a.       Pendewasaaan/kematangan, merupakan pengembanagn dari susunan syaraf.
b.       Pengalaman fisis, anak harus mempunyai pengalaman dengan benda-benda dan stimulus-stimulusdalam lingkungan tempat ia beraksi terhadap benda-benda itu.
c.       Interaksi social, adalah pertukaran ide antara individu dengan individu
d.      Keseimbangan, adalah suatu system pengaturan sendiri yang bekerja untuk menyelesaikan. Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 4 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi dan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan.

2.    Jerome Bruner
Teori pembelajaran kognitif akan menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia seperti juga diungkapkan winkel (Winkel, 1996) bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap, Faktor yang memberikan andil bagi popularitas ide-ide Bruner adalah bahwa mereka sangatlah sesuai dengan kondisi waktu. Penekananya pada penemuan dan pembelajaran ” menggunakan sesuatu ” sesuai dengan ide Piaget.
Bruner berargumen bahwa kita harusnya mengajarkan ”Struktur subjek-subjek”. dia menganjurkan pendahuluan bagi proses nyata dari sebuah disiplin khusus terhadap siswa
Tiga tahapan dalam Teori Burner tentang perkembangan intelektual adalah:
a.       Enactive, di mana seseorang belajar tentang dunia melalui aksi-aksi terhadap objek.
b.      Iconic, di mana pembelajaran terjadi melalui penggunaan model-model dan gambar-gambar
c.       Symbolic, yang menggambarkan kapasitas berfikir dalam istilah-istilah yang abstrak.
Prinsip pengajaran dan pembelajaran yang mendasari Bruner adalah bahwa kombinasi yang konkret, gambar kemudian aktivitas simbolis akan mengarah pada pembelajaran yang lebih efektif. Kemajuannya adalah dimulai dengan sebuah pengalaman konkret, kemudian bergerak menuju gambar-gambar dan akhirnya menggunakan representasi.
Aspek lain dari teori Bruner, yang telah diterapkan dengan antusias dalam ruang kelas guru adalah pembelajaran penemuan (Discovery Learning).
3.    David ausubel
Menurut Ausubel (Dahar, 1996) bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah sesuatu yang ”bermakna”. Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
4.    Robert gagne
Dia menunjukan bahwa sebuah tugas akan dipelajari dengan cara terbaik oleh rangkaian sembilan peristiwa spesifik berikut ini:
a.       mendapatkan perhatian
b.       menginformasikan pembelajaran sasaran yang akan dituju
c.       menstimulasi ingatan mengenai prasyarat pembelajaran
d.      menghadirkan materi baru
e.       memberikan paduan pembelajaran
f.       mendapatkan prestasi
g.      memberikan umpan balik tentang yang benar
h.      memperkirakan prestasi memperluas ingatan dan memori.
Kelebihan dan kekurangan
1.         Kelebihan teori Kognitif  
Dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah (problem solving), Dapat meningkatkan motivasi
2.         Kekurangan teori kognitif adalah karena guru bukan sumber belajar utama dan bukan kepatuhan siswa yang di tuntut dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan di lakukan oleh guru. Maka dalam hal ini kewibawaan dari seorang guru akan berkurang yang berimbas penghormatan seorang siswa kepada seorang guru juga akan berkurang.

Aplikasi teori kognitif
Aplikasi teori Kognitif yaitu lebih menekankan bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuan berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Proses pembelajaran siswa merupakan pembentukan lingkungan belajaryang dapat membantusiswa untuk membangun konsep-konsepatau prinsip- prinsip siswa berdasarkan kemampuanya sendiri melalui proses internalisasi.

c.       Teori belajar konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Ciri-ciri Konstruktivisme
1.        Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
2.        Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
3.        Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.        Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancer
5.        Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
Selain itu yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.
Teori belajar Kontruktivisme memandang bahwa:
1.        Belajar berarti mengkontruksikan makna atas informasi dari masukan yang masuk ke dalam otak.
2.        Peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri.
3.        Peserta didik sebagai individu yang selalu memeriksa informasi baru yang berlawanan dengan prinsip-prinsip yang telah ada dan merevisi prinsip-prinsip tersebut apabila sudah dianggap tidak bisa digunakan lagi.
4.        Peserta didik mengkontruksikan pengetahuannya sendiri melalui interaksi dengan lingkungannya


Teori Kontruktivisme menetapkan 4 asumsi tentang belajar, yaitu:
1.         Pengetahuan secara fisik dikonstruksikan oleh peserta didik yang terkibat dalam belajar aktif.
2.         Pengetahuan secara simbolik dikonstruksikan oleh peserta didik yang membuat representasi atas kegiatannya sendiri.
3.         Pengetahuan secara sosial dikonstruksikan oleh peserta didik yang menyampaikan maknanya kepada orang lain.
4.         Pengetahuan secara teoritik dikonstruksikan oleh peserta didik yang mencoba menjelaskan obyek yang tidak benar-benar dipahaminya.
Aplikasi dan Implikasi dalam Pembelajaran
1.         Setiap guru akan pernah mengalami bahwa suatu materi telah dibahas dengan jelas-jelasnya namun masih ada sebagian siswa yang belum mengerti ataupun tidak mengerti materi yang diajarkan sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru dapat mengajar suatu materi kepada sisiwa dengan baik, namun seluruh atau sebagian siswanya tidak belajar sama sekali. Usaha keras seorang guru dalam mengajar tidak harus diikuti dengan hasil yang baik pada siswanya. Karena, hanya dengan usaha yangkeras para sisiwa sedirilah para siswa akan betul-betul memahami suatu materi yang diajarkan.
2.         Tugas setiap guru dalam memfasilitasi siswanya, sehingga pengetahuan materi yang dibangun atau dikonstruksi para siswa sendirian bukan ditanamkan oleh guru. Para siswa harus dapat secara aktif mengasimilasikan dan mengakomodasi pengalaman baru kedalam kerangka kognitifnya.
3.         Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia mereka dan penalaran yang dikembangkandan yang dibuat para sisiwa untuk mendukung model-model itu.
4.         Siswa perlu mengkonstruksi pemahaman yang mereka sendiri untuk masing-masing konsep materi sehingga guru dalam mengajar bukannya “menguliahi”, menerangkan atau upaya-upaya sejenis untuk memindahkan pengetahuan pada siswa tetapi menciptakan situasi bagi siswa yang membantu perkembangan mereka membuat konstruksi-konstruksi mental yang diperlukan.
5.         Kurikulum dirancang sedemikian rupa sehingga terjadisituasi yang memungkinkan pengetahuan dan keterampilan dapat dikonstruksi oleh peserta didik.
6.         Latihan memecahkan masalah seringkali dilakukan melalui belajar kelompok dengan menganalisis masalah dalam kehidupan sehari-hari.
7.         Peserta didik diharapkan selalu aktif dan dapat menemukan cara belajar yang sesuai dengan dirinya. Guru hanya sebagai fasilitator, mediator, dan teman yang membuat situasi kondusif untuk terjadinya konstruksi engetahuan pada diri peserta didik.
Kelebihan dan Kekurangan Konstruktivisme
a.       Kelebihan
Murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, menjana idea dan membuat keputusan. Faham kerana murid terlibat secara langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi. Selian itu murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru; Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri; Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya; Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap; Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri; Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
b.      Kelemahan
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya kurang begitu mendukung; siswa berbeda persepsi satu dengan yang lainnya. 

d.      Teori Belajar  Humanisme
Dalam teori humanisme lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatan ini melihat kejadian yaitu bagaimana dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan positif ini yang disebut sebagai potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanisme biasanya menfokuskan pengajarannya pada pembangunan kemampuan yang positif. Kemampuan positif tersebut erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat dalam domain afektif. Emosi merupakan karateristik yang sangat kuat yang nampak dari para pendidik beraliran humanisme. Dalam teori pembelajaran humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Dimana memanusiakan manusia di sini berarti mempunyai tujuan untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.
Ciri-ciri Teori Humanisme
Pendekatan humanisme dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk pengembangan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Ketrampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika siswa memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan utama para pendidik adalah membantu si siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka
Ada salah satu ide penting dalam teori belajar humanisme yaitu siswa harus mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga siswa mengetahui apa yang dipelajarinya serta tahu seberapa besar siswa tersebut dapat memahaminya. Dan juga siswa dapat mengetahui mana, kapan, dan bagaimana mereka akan belajar. Dengan demikian maka siswa diharapkan mendapat manfaat dan kegunaan dari hasil belajar bagi dirinya sendiri. Aliran humanisme memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang meliputi bagian/domain yang ada yaitu dapat meliputi domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.


Tokoh Humanisme
Ada beberapa pendapat para ahli mengenai teori belajar huamanisme yaitu diantaranya:
1.      Arthur Combs (1912-1999)
Arthur Combs bersama dengan Donald Syngg menyatakan bahwa belajar terjadi apabila mempunyai arti bagi individu tersebut. Artinya bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru tidak boleh memaksakan materi yang tidak disukai oleh siswa. Sehingga siswa belajar sesuai dengan apa yang diinginkan tanpa adanya paksaan sedikit pun.
guru harus lebih memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada. Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa diri siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.

2.      Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal : suatu usaha yang positif untuk berkembang; kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
3.      Carl Roger
Seorang psikolog humanisme yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran.
Ada beberapa Asumsi dasar teori Rogers adalah: Kecenderungan formatif; Segala hal di dunia baik organik maupun non-organik tersusun dari hal-hal yang lebih kecil; Kecenderungan aktualisasi; Kecenderungan setiap makhluk hidup untuk bergerak menuju ke kesempurnaan atau pemenuhan potensial dirinya. Tiap individual mempunyai kekuatan yang kreatif untuk menyelesaikan masalahnya.
Aplikasi dan Implikasi Humanisme
ü  Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanisme memberi perhatian atas guru sebagai fasilitator.
1.      Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.      Fasilitator membantu untuk memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3.      Dia mempercayai adanya keinginan dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang bermakna tadi.
4.      Dia mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.      Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.      Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7.      Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.      Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh siswa
Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Pembelajaran berdasarkan teori humanisme ini cocok untuk diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku
Kekurangan teori ini adalah jika tidak terkontrol, murid aka nmempunyai sikap egois yang tinggi. Melakukan apa yang mereka inginkan tanpa batas, siswa tidak mengetahui bahwa dirinya memililiki kepribadian yang unik.
e.       TEORI BELAJAR SIBERNETIK
Pengertian teori sibernetik sendiri adalah teori belajar yang mengutamakan proses informasi. Teori sibernetik mempunyai persamaan dengan teori kognitif, yaitu lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Hanya saja sistem informasi yang akan dipelajari siswa lebih dipentingkan.
Menurut teori sibernetik tidak ada cara belajar yang sempurna untuk segala kondisi karena cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Ada tiga tahap roses pengolahan informasi dalam ingatan, yakni dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval).
Komponen pemrosesan informasi dipilih berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya "lupa". Ketiga komponen ter-sebut adalah :
1.      Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, bertahan dalam waktu sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu atau berganti.
2.      Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu. Karakteristik WM adalah memi-liki kapasitas terbatas (informasi hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik tanpa pengulangan) dan informasi dapat disandi dalam ben-tuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Artinya agar informasi dapat bertahan dalam WM, upayakan jumlah informasi tidak melebihi ka-pasitas disamping melakukan pengulangan.
3.      Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, 3) sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah ter-hapus atau hilang. Persoalan lupa pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang diper-lukan.
Teori sibernetik mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.    Menarik perhatian
2.    Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
3.    Merangsang ingatan pada pra syarat belajar
4.    Menyajikan bahan peransang
5.    Memberikan bimbingan belajar
6.    Mendorong unjuk kerja
7.    Memberikan balikan informative
8.    Menilai unjuk kerja
9.      Meningkatkan retensi dan alih belajar
Menurut Landa, ada dua macam proses berpikir. Pertama, disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linier, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu. Jenis kedua adalah cara berpikir heuristik, yakni cara berpikir divergen, menuju kebeberapa target sekaligus.
Ahli lain yang pemikirannya beraliran sibernetik adalah Pask dan Scott. Pendekatan serialis yang diusulkan oleh Pask dan Scott sama dengan pendekatan algoritmik. Pask dan Scott membagi siswa menjadi tipe menyeluruh atau wholist, dan tipe serial atau serialist. Mereka mengatakan bahwa siswa yang bertipe wholist cenderung mempelajari sesuatu dari yang paling umum menuju ke hal-hal yang lebih khusus, sedangkan siswa dengan tipe serialist dalam berpikir akan menggunakan cara setahap demi setahap atau linier.
Namun, cara berpikir menyeluruh (wholist) tidak sama dengan heuristik. Cara berpikir menyeluruh adalah berpikir yang cenderung melompat ke depan, langsung ke gambaran lengkap sebuah sistem informasi. Ibarat melihat lukisan, bukan detail-detail yang kita amati lebih dahulu, tetapi seluruh lukisan itu sekaligus, baru sesudah itu ke bagian-bagian yang lebih kecil.
Kelebihan dan Kekurangan Teori Sibernetik
Kelebihan teori siber-netik adalah:
1.      Cara berfikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol.
2.      Penyajian pengetahuan memenuhi aspek ekonomis.
3.      Kapabilitas belajar dapat disajikan lebih lengkap.
4.       Adanya keterarahan seluruh kegiatan kepada tujuan yang ingin dicapai.
5.       Adanya transfer belajar pada lingkungan kehidupan yang sesungguhnya.
6.      Kontrol belajar memungkinkan belajar sesuai dengan irama masing-masing individu
7.      Balikan informative memberikan rambu-rambu yang jelas tentang tingkat unjuk kerja yang telah dicapai dibandingkan dengan unjuk kerja yang diharapkan.
Sedangkan kekurangan teori sibernetik adalah terlalu menekankan pada sistem informasi yang dipelajari, dan kurang memperhatikan bagaimana proses belajar.
Penerapan Teori Sibernetik Dalam Pembelajaran
Teori sibernetik merupakan teori belajar yang masih baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Teori ini berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik belajar adalah pemrosesan informasi. Teori sibernetik lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari.
Proses belajar menurut teori sibernetik akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari itu atau masalah yang hendak dipecahkan (dalam istilah yang lebih teknis yaitu sistem informasi yang hendak dipelajari) diketahui ciri-cirinya. Satu hal lebih tepat apabila disajikan dalam bentuk "terbuka" dan memberi keleluasaan siswa untuk berimajinasi dan berpikir. Aplikasi teori sibernetik dalam pembelajaran dirumuskan dalam teori Gagne dan Brigss yang mendeskripsikan adanya kapabilitas belajar, peristiwa pembelajaran, dan pengorganisasian atau pengurutan pembelajaran.
6.    TEORI  MOTIVASI
Motivasi berasala dari bahasa latin yaitu “movere” yang berarti menggerakkan. Berdasarkan pengertian ini, maka makna motivasi menjadi berkembang.
Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memeberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Imron (1996), menjelaskan motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu “motivation” yang berarti dorongan pengalasan dan motivasi. Kata kerjanya adalah “to motivate” yang berarti mendorong, menyebabkan , dan merangsang. Motivate sendiri berarti alasan, sebab dan daya penggerak (Echols, 1984 dalam Imron 1996).
Motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang mendorong individu tersebut untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu guna mencapai tujuan yang diinginkan (Suryabrata, 1984)
JENIS MOTIVASI
Motivasi intrinsic adalah motivasi yang berasal dari dalam individu tanpa adanya rangsangan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang berasal dari luar misalnya emberian pujian, pemberian nilai sampai pada pemberian hadiah dan factor-faktor eksternal lainnya yang memiliki daya dorong motivasional. Motivasi intrinsik dalam realitasnya lebih memiliki daya tahan yang lebih kuat dibanding motivasi ekstrinsik. Hal ini terjadi karena faktor ekstrinsik bisa saja justru mengakibatkan daya motivasi individu berkurang
Motivasi dilihat dari dasar pembentukanya terdiri dari:
ü  Motivasi bawaan : motivasi jenis ini ada sebagian insting manusia sebagai mahluk hidup, motivasi untuk berumah tangga, motivasi untuk memenuhi kebutuhan sandang,pangan dan papan.
ü  Motivasi yang dipelajari : motivasi jenis ini aka nada dan berkembang karena adanya keingin tahuan seseoranng dalam proses pembelajaran.
ü  Motivasi kognitif : motivasi akan muncul karena adanya desakan proses berpikir sehingga motivasi ini sangan individualistic
ü  Motivasi ekspresi diri : motivasi individu dalam melakukan aktivitas atau kegiatan bukan hanya untuk memuaskan kebutuhanya saja tapi ada kaitanya dengan bagaimana individu tersebut.
ü  Motivasi aktualisasi diri : JK.Rowling telah berhasil membuktikan bahwa dengan menulis dirinya bisa memberikan banyak makna buat pembaca . tulisan menjadi sumber inspirasi jutaan orang bahwamotivasi menulis bukanlah semata-mata memuaskan hobi saja melainkan bisa di jadikan sebagai bentuk aktualisasi diri,
Untuk memahami tentang motivasi, kita akan bertemu dengan beberapa teori tentang motivasi, antara lain
1.    Teori Abraham H. Maslow (Teori Kebutuhan)
Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu :
1)      kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, istirahat dan sex; 2)
2)      kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektua
3)      kebutuhan akan kasih sayang (love needs)
4)      kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status
5)      aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.
Berangkat dari kenyataan bahwa pemahaman tentang berbagai kebutuhan manusia makin mendalam penyempurnaan dan “koreksi” dirasakan bukan hanya tepat, akan tetapi juga memang diperlukan karena pengalaman menunjukkan bahwa usaha pemuasan berbagai kebutuhan manusia berlangsung secara simultan. Artinya, sambil memuaskan kebutuhan fisik, seseorang pada waktu yang bersamaan ingin menikmati rasa aman, merasa dihargai, memerlukan teman serta ingin berkembang.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa lebih tepat apabila berbagai kebutuhan manusia digolongkan sebagai rangkaian dan bukan sebagai hierarki. Dalam hubungan ini, perlu ditekankan bahwa :
Ø  Kebutuhan yang satu saat sudah terpenuhi sangat mungkin akan timbul lagi di waktu yang akan datang;
Ø  Pemuasaan berbagai kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan fisik, bisa bergeser dari pendekatan kuantitatif menjadi pendekatan kualitatif dalam pemuasannya.
Ø  Berbagai kebutuhan tersebut tidak akan mencapai “titik jenuh” dalam arti tibanya suatu kondisi dalam mana seseorang tidak lagi dapat berbuat sesuatu dalam pemenuhan kebutuhan itu.
Kendati pemikiran Maslow tentang teori kebutuhan ini tampak lebih bersifat teoritis, namun telah memberikan fundasi dan mengilhami bagi pengembangan teori-teori motivasi yang berorientasi pada kebutuhan berikutnya yang lebih bersifat aplikatif.
2.    Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Menurut McClelland karakteristik orang yang berprestasi tinggi (high achievers) memiliki tiga ciri umum yaitu :
1.      sebuah preferensi untuk mengerjakan tugas-tugas dengan derajat kesulitan moderat
2.      menyukai situasi-situasi di mana kinerja mereka timbul karena upaya-upaya mereka sendiri, dan bukan karena faktor-faktor lain, seperti kemujuran misalnya
3.      menginginkan umpan balik tentang keberhasilan dan kegagalan mereka, dibandingkan dengan mereka yang berprestasi rendah.
3.    Teori Herzberg (Teori Dua Faktor)
Ilmuwan ketiga yang diakui telah memberikan kontribusi penting dalam pemahaman motivasi Herzberg. Teori yang dikembangkannya dikenal dengan “ Model Dua Faktor” dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau “pemeliharaan”.
Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.
Menurut Herzberg, yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain ialah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku.
Salah satu tantangan dalam memahami dan menerapkan teori Herzberg ialah memperhitungkan dengan tepat faktor mana yang lebih berpengaruh kuat dalam kehidupan seseorang, apakah yang bersifat intrinsik ataukah yang bersifat ekstrinsik
4.    Teori Keadilan
Teori keadilan adalah teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan. Inti teori ini terletak pada pandangan bahwa manusia terdorong untuk menghilangkan kesenjangan antara usaha yang dibuat bagi kepentingan organisasi dengan imbalan yang diterima
Artinya, apabila seorang pegawai mempunyai persepsi bahwa imbalan yang diterimanya tidak memadai, dua kemungkinan dapat terjadi, yaitu :
Ø  Seorang akan berusaha memperoleh imbalan yang lebih besar, atau
Ø  Mengurangi intensitas usaha yang dibuat dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
5.    Teori penetapan tujuan (goal setting theory)
Teori penentuan tujuan adalah teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Artinya, tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan
Edwin Locke mengemukakan bahwa dalam penetapan tujuan memiliki empat macam mekanisme motivasional yakni : (a) tujuan-tujuan mengarahkan perhatian; (b) tujuan-tujuan mengatur upaya; (c) tujuan-tujuan meningkatkan persistensi; dan (d) tujuan-tujuan menunjang strategi-strategi dan rencana-rencana kegiatan.
6.    Victor H. Vroom (Teori Harapan )
Menurut teori ini, motivasi merupakan akibat suatu hasil dari yang ingin dicapai oleh seorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya itu. Artinya, apabila seseorang sangat menginginkan sesuatu, dan jalan tampaknya terbuka untuk memperolehnya, yang bersangkutan akan berupaya mendapatkannya. Dinyatakan dengan cara yang sangat sederhana, teori harapan berkata bahwa jika seseorang menginginkan sesuatu dan harapan untuk memperoleh sesuatu itu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memperoleh hal yang diinginkannya itu. Sebaliknya, jika harapan memperoleh hal yang diinginkannya itu tipis, motivasinya untuk berupaya akan menjadi rendah.
7.    Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Teori penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku.
Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
8.    Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .
Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Termasuk pada faktor internal adalah :
a.       persepsi seseorang mengenai diri sendiri
b.      harga diri
c.       harapan pribadi
d.      kebutuhaan
e.       keinginan
f.       kepuasan kerja
g.      prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah :
a.       jenis dan sifat pekerjaan
b.      kelompok kerja dimana seseorang bergabung
c.       organisasi tempat bekerja
d.      situasi lingkungan pada umumnya
e.       sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya

Area Motivasi Manusia

Empat area utama motivasi manusia adalah makanan, cinta, seks, dan pencapaian. Tujuan-tujuan yang mendasari motivasi ditentukan sendiri oleh individu yang melakukannya, individu dianggap tergerak untuk mencapai tujuan karena motivasi intrinsik (keinginan beraktivitas atau meraih pencapaian tertentu semata-mata demi kesenangan atau kepuasan dari melakukan aktivitas tersebut), atau karena motivasi ekstrinsik, yakni keinginan untuk mengejar suatu tujuan yang diakibatkan oleh imbalan-imbalan eksternal.

            Strategi motivasi belajar
            Cara yang dilakukan untuk membangkitkan motivasi intrinsik peserta didik:
a.      Membangkitkan minat belajar.
b.      Mendorong rasa ingin tahu.
c.       Menggunakan variasi metode penyajian yang menarik.
d.      Membantu peserta didik dalam merumuskan tujuan belajar.
cara meningkatkan motivasi :
a.       Menggunakan alat pendidikan seperti; ganjaran, penguatan, penghargaan, dan hukumna
b.      Menyediakan sarana dan prasarana belajar
c.       Menciptakan llingkungan belajar yang kondusif
d.      Menciptakan hubungan baik dengan mahasiswa
e.       Merancang materi dan metode embelajaran yang menarik

B.  KONDISI BELAJAR
Kondisi belajar adalah suatu keadaan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar siswa. Definisi yang lain tentang kondisi belajar adalah suatu keadaan yang mana terjadi aktifitas pengetahuan dan pengalaman melalui berbagai proses pengolahan mental. Kondisi belajar juga dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang harus dialami siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.
Gagne dalam bukunya “condition of learning” (1977) menyatakan bahwa kondisi belajar adalah suatu situasi belajar (learning situation) yang dapat menghasilkan perubahan perilaku (performance) pada seseorang setelah ia ditempakan pada situasi tersebut.Kondisi atau situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar harus dirancang dan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh perancang atau guru.
Menurut Robert. M. Gagner, ada dua kondisi belajar siswa,
1.             Kondisi internal (internal condition) adalah kemampuan yang telah ada pada diri individu sebelum ia mempelajari sesuatu yang baru dengan kata lain berarti kondisi yang mempengaruhi belajar siswa yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, seperti motivasi belajar, keadaan psikologis, fikiran dan sebagainya.
2.             kondisi belajar eksternal, yaitu kondisi belajar yang ditimbulkan dari luar diri mereka, dalam hal ini adalah lingkungan belajar siswa. Kondisi eksternal adalah peristiwa khusus dan unik yang memungkinkan belajar (Gagne, 1985), khususnya peristiwa yang mengandung stimulus yang ada di luar diri pembelajar seperti penjadwalan, pengurutan, dan organisasi penyajian. Untuk meningkatkan prestasi belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan eksternal.

Kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa :
a.       Faktor Jasmani,meliputi faktor kesehatan,kebugaran tubuh,siswa yang badannya sehat akan lebih baik hasil belajarnya dari siswa yang sakit.Begitu juga sangat berpengaruh kesempurnaan dan kelengkapan indra (penglihatan,pendengaran,serta kelengakapan anggota fisik lainnya).
b.      Faktor Psikolgis,diantaranya yang sangat berpengaruh adalah intelegensia, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan, dan kelelahan.

Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi siswa :
a.       Keluarga
Di dalam keluarga yang menjadi penanggung jawab adalah orang tua,sikap orang tua di dalam keluarga sangat mempengaruhi hasil belajar peserta didik.Sikap orang tua yang otoriter,demokratis sangat berpengaruh bagi perkembangan anak.Karena itu rumah tangga sangat berpengaruh bagi perkembangan pribadi anak.
b.      Faktor sekolah
Faktor sekolah juga tidak kalah pentingnya di dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang baik meliputi guru, sarana, fasilitas, kurikulum, disiplin, lingkungan sekolah hubungan guru dengan siswa, hubungan sekolah dengan orang tua siswa,dan lain sebagainya.
c.       Faktor masyarakat
Karena peserta didik hidup berkecimpung di tengah  - tengah masyarakat, maka lingkungan masyarakat sangat berpengaruh bagi peserta didik.

Kondisi untuk Belajar Keterampilan Intelektual,Strategi
Kondisi belajar merupakan stimuli yang datang dari luar diri mahasiswa/ siswa. Kondisi ini merupakan masukan yang dapat menyebabkan adanya modifikasi tingkah laku sebagai akibat dari belajar. Menurut Gagne (1985) tingkah laku hasil belajar diklasifikasikan menjadi lima macam :
a.    Ketrampilan intelektual
Merupakan hasil pendidikan formal, kemampuan dalam mentransformasikan simbol tertulis menjadi kata yang diucapkan,  merubah pernyataan menjadi pertanyaan, konsep dalam memecahkan masalah, dsb
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa untuk mempelajari ketrampilan intelektual adalah penguasaan ketrampilan yang lebih mudah sebelum ketrampilan berikutnya, dan adanya proses yang dapat dipakai untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru dalam mengajar ketrampilan intelektual adalah hubungan antara yang dipelajari dengan materi sebelumnya, pemberian penguatan (renforcement), informasi secara verbal atau demonstrasi,  pemberitahuan tenjang tujuan yang harus dicapai, dan pemberian ulangan-ulangan.
b.    Strategi Kognitif
Merupakan kemampuan internal mahasiswa/siswa sebagai panduan dalam berpikir, belajar,memecahkan masalah yang baru sama sekali. Strategi kognitif merupakan tujuan utama pendidikan. Seorang mahasiswa/ siswa tidak hanya pandai memecahkan masalah tetapi juga mampu berpikir mandiri dan membuat keputusan berdasarkan apa yang telah dipelajari.
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa untuk belajar strategi kognitif adalah  mempunyai ketrampilan intelektual dalam memecahkan masalah,  mempunyai dasar dalam memecahkan masalah. Kondisi eksternal yang diperlukan adalah mahasiswa/siswa perlu dihadapkan pada situasi yang sama sekali baru,  mahasiswa perlu diberi kesempatan untuk berpikir.
c.     Informasi Verbal
Merupakan suatu komponen prasarat dalam usaha mempelajari kemampuan-kemampuan yang lain. Informasi verbal dapat dipelajari dalam bentuk oral maupun tertulis dan berkisar dari yang paling sederhana ke pengetahuan yang sangat kompleks.
Kondisi internal harus dipunyai mahasiswa/siswa adalah  informasi yang telah dipunyai sebelumnya yang dapat ditransfer ke dalam situasi baru, pemahaman tentang arti kata-kata atau istilah, struktur kognitif yang sudah dipelajari sebelumnya.
Kondisi eksternal yang perlu diberikan dosen/guru adalah  ringkasan pelajaran dalam bentuk berarti dan dapat menstimulasi struktur kognitif mahasiswa/siswa,  tujuan belajar yang harus dicapai,  meningkatkan/ mempertajam perbedaan-perbedaan, dan mengadakan pegulangan.
d.    Ketrampilan Motorik
Merupakan hasil belajar yang berhubungan dengan gerakan otot dan pada umumnya merupakan salah satu tujuan utama pengajaran. Menurut Fitts (1968) tahap-tahap ketrampilan motorik adalah:
1.      Kognitif; dengan tekanan kepada belajar mengenal petunjuk-petunjuk
2.      Fiksasi; mulai mempelajari pola tingkah laku atau respons yang dikehendak
3.      Otonomi; kegiatan dilakukan secara otomatis dan ditandai dengan peningkatan kecepatan dan daya tahan terhadap ketegangan, kecemasan, atau gangguan dari kegiatan-kegiatan lain.
Kondisi internal yang perlu dimiliki mahasiswa/siswa dalam belajar ketrampilan motorik adalah  kemampuan untuk mengulang kembali ketrampilan yang sederhana, kemampuan mengingat kembali pelaksanaan tingkah laku yang bersifat rutin. Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru adalah pemberian instruksi secara verbal penggunaan gambar baik gambar diam maupun gerak, pemberian demonstrasi,  pemberian kesempatan pada mahasiswa/siswa untuk latihan atau praktek,  pemberian umpan balik.

e.    Sikap
Keadaan internal seseorang yang dapat mempengaruhi tingkah lakunya terhadap suatu objek atau kejadian disekitarnya. Komponen sikap adalah
1) kognitif, seseorang memerlukan konsistensi dalam tingkah lakunya;
2) efektif, berupa positip atau negatip;
3) tingkah laku, ditentukan oleh situasi pada suatu saat tertentu
Kondisi internal yang harus dimiliki mahasiswa dalam mempelajari sikap adalah  pengetahuan atau ketrampilan intelektual,  ketrampilan motorik,  rasa kagum atau respek terhadap orang yang mempunyai sikap positif.
Kondisi eksternal yang perlu dimanipulasi dosen/guru adalah  pengalaman emosional dalam melakukan sesuatu yang harus dipelajari,  model tentang apa yang harus dipelajari, penguatan setiap kali mahasiswa/ siswa menunjukkan sikap yang diinginkan.
cara untuk menyiasati kondisi belajar itu agar tidak menimbulkan kejenuhan, diantaranya melalui langkah –langkah berikut:
a.       Pemberian motivasi
Peranan guru yang sangat mendasar adalah membangkitkan motivasi dalam diri peserta didiknya agar semakin aktif belajar.  Ketika mata pelajarannya tidak menarik,seringkali kegembiraan dalam kegiatan belajar aktif itu saja sudah dapat menyenangkan siswa dan memotivasi mereka untuk menguasai pelajaran yang paling menjenuhkan sekalipun.Motivasi dapat membuat siswa manguasai pelajaran sulit.
b.      Menciptakan Suasana Belajar yang Menyenangkan
Belajar tidak harus selalu serius.Belajar aktif juga bukan sekedar bersenang – senang,suasana belajar yang menyenangkan harus tetap dapat mendatangkan manfaat.
c.       Membuat Lingkungan Belajar yang Menggairahkan
d.       Mengadakan refreshin









DAFTAR PUSTAKA
Rifai, Achmad dan Tri Anni, Catharina. 2009. Psikologi Pendidikan. Semarang: Unnes Press

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar